Membaca Indah


Membaca Indah adalah bagian dari membaca NYARING. Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dgn menyuarakan tulisan yg dibacanya dgn ucapan dan intonasi yg tepat agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yg disampaikan oleh penulis, baik yg berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis. Membaca dalam konteks membaca indah dapat diartikan sebagai membaca untuk orang lain, dengan tujuan agar orang lain paham (a) paham dgn informasi yg didengar, (b) tertarik, bersemangat, antusias, bisa ikut merasakan

Download ppt membaca indah silakan KLIK di sini

Pengantar Membaca dan Menulis

Slide (ppt) I. Membaca dan Menulis sebagai bentuk keterampilan berbahasa (Pengantar Mata Kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia I).
Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai sarana komunikasi. Keterampilan berbahasa mencakup menulis, berbicara, membaca, dan mendengarkan.

Pengantar Materi membaca


1. Hakikat Membaca

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis. Ruang lingkup pembelajaran bahasa meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu: mendengarkan/menyimak dan membaca (disebut keterampilan reseptif); berbicara dan menulis (disebut dengan keterampilan aktif/produktif).

Keterampilan membaca adalah salah satu keterampilan reseptif di samping keterampilan mendengarkan. Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Membaca merupakan suatu proses aktif yang bertujuan dan memerlukan strategi. Hal ini didukung oleh beberapa definisi berikut ini. Hodgson (dalam Tarigan, 1985:7) mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.

Pendapat lain menyatakan bahwa membaca ialah proses pengolahan bacaan secara kritis, kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. Definisi ini sesuai dengan membaca pada tingkat lanjut, yakni membaca kritis dan membaca kreatif.

Selanjutnya, Anderson dalam Tarigan (1985:7) berpendapat bahwa membaca adalah suatu proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambanglambang bahasa tulis. Hal ini sesuai dengan membaca pada level rendah. Finochiaro dan Bonono (1973:119) menyatakan bahwa membaca adalah proses memetik serta memahami arti/makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Batasan ini tepat dikenakan pada membaca literal. Di pihak lain, Thorndike (1967:127) berpendapat bahwa membaca merupakan proses berpikir atau bernalar.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses pengucapan tulisan untuk mendapatkan isinya. Pengucapan tidak selalu dapat didengar, misalnya membaca dalam hati. Selanjutnya, membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari menyimak, berbicara, dan menulis. Sewaktu membaca, pembaca yang baik akan memahami bahan yang dibacanya. Selain itu, dia bisa mengkomunikasikan hasil membacanya secara lisan atau tertulis. Dengan demikian, membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Jadi, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, proses aktif, bertujuan, serta memerlukan strategi tertentu sesuai dengan tujuan dan jenis membaca.

Syafi’ie (1999:6–7) menyebutkan, hakikat membaca adalah: (1) Pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan. (2) Kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan. (3) Kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dipunyai. (4) Suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan. (5) Proses mengolah informasi oleh pembaca dengan menggunakan informasi dalam bacaan dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dipunyai sebelumnya yang relevan dengan informasi tersebut. (6) Proses menghubungkan tulisan dengan bunyinyasesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. (7) Kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan. Kegatan membaca bukan hanya kegiatan mekanis saja, melainkan merupakan kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang membawa makna.

Dari beberapa butir hakikat membaca tersebut, dapat dikemukakan bahwa membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang berupa fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual dan merupakan proses mekanis dalam membaca. Proses mekanis tersebut berlanjut dengan proses psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Proses pskologis itu dimulai ketika indera visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke pusat kesadaran melalui sistem syaraf. Melalui proses decoding gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu kemudian diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna. Proses decoding berlangsung dengan melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan.

2. Tujuan Membaca

Rivers dan Temperly (1978) mengajukan tujuh tujuan utama dalam membaca yaitu: (a)  Memperoleh informasi untuk suatu tujuan atau merasa penasaran tentang suatu topik. (b)  Memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan suatu tugas bagi pekerjaan atau kehidupan sehari-hari (misalnya, mengetahui cara kerja alat-alat rumah tangga). (c) Berakting dalam sebuah drama, bermain game, menyelesaikan teka-teki. (d) Berhubungan dengan teman-teman dengan surat-menyurat atau untuk memahami surat-surat bisnis.(e) Mengetahui kapan dan di mana sesuatu akan terjadi atau apa yang tersedia. (f)  Mengetahui apa yang sedang terjadi atau telah terjadi (sebagaimana dilaporkan dalam koran, majalah, laporan). (g) Memperoleh kesenangan atau hiburan.

Anderson (dalam Tarigan, 1985:9–10) merumuskan tujuan membaca sebagai berikut: (1) menemukan detail atau fakta, (2) menemukan gagasan utama, (3) menemukan urutan atau organisasi bacaan, (4) menyimpulkan, (5) mengklasifikasikan, (6) menilai, dan (7) membandingkan atau mempertentangkan”.

Selanjutnya, Nurhadi (1989:11) menyebutkan bahwa tujuan membaca secara khusus adalah: (1) mendapatkan informasi faktual, (2) memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis, (3) memberi penilaian terhadap karya tulis seseorang, (4) memperoleh kenikmatan emosi, dan (5) mengisi waktu luang. Sebaliknya, secara umum, tujuan membaca adalah: (1) mendapatkan informasi, (2) memperoleh pemahaman, dan (3) memperoleh kesenangan.

Hubungan antara tujuan membaca dengan kemampuan membaca sangat signifikan. Pembaca yang mempunyai tujuan yang sama, dapat mencapai tujuan dengan cara pencapaian berbeda-beda. Tujuan membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam membaca karena akan berpengaruh pada proses membaca dan pemahaman membaca.

 3. Jenis-jenis Membaca

Menurut Tarigan (1985:11–13) jenis-jenis membaca ada dua macam, yaitu: 1) membaca nyaring, dan 2) membaca dalam hati. Membaca dalam hati terdiri atas: (a) membaca ekstensif, yang dibagi lagi menjadi: membaca survey, membaca sekilas, dan membaca dangkal, dan (b) membaca intensif, yang terdiri dari: membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi terdiri dari: membaca teliti, pemahaman, kritis, dan membaca ide-ide. Membaca telaah bahasa terdiri dari: membaca bahasa dan membaca sastra.

Bila dibagankan, jenis-jenis membaca tersebut adalah sebagai berikut. 

*) disarikan dari Pembelajaran Membaca - KKG utk materi pembelajaran

INGIN membaca lebih lanjut atau DOWNLOAD tulisan ini

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme. Silogisme yaitu proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi). Premis adalah suatu pernyataan yang berguna sebagai dasar dalam penarikan kesimpulan

Ada beberapa macam silogisme. Silogisme yang akan dipaparkan berikut ini adalah silogisme kategorial. Silogisme kategorial adalah suatu bentuk argument yang bersifat deduktif, yang mengandung tiga proposisi kategorial, yakni dua premis dan satu kesimpulan. Masing-masing premis itu yakni premis umum atau premis mayor (biasa disingkat PU), premis khusus/premis minor (PK)

Konklusi atau kesimpulan yang dirumuskan harus dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam penarikan kesimpulan model deduktif ini yakni (1) premis harus benar, (2) penalaran yang menuju pada kesimpulan juga harus benar

Kriteria Silogisme
Premis Umum (PU): menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (semua A) memiliki sifat atau hal tertentu (=B)

Premis Khusus (PK): menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu (=C) adalah anggota golongan tertentu itu (=A)

Kesimpulan (K): menyatakan bahwa sesuatu atau seorang itu (=C) memiliki sifat atau hal tersebut pada B (=B)

Dari kriteria silogisme di atas, jika dirumuskan akan menjadi:
PU --> semua A = B
PK --> C = A
K   --> C = B

Contoh:
PU = semua buruh pertambangan memakai helm
PK = Joko buruh pertambangan
K = Joko pasti memakai helm

Silogisme Negatif
Silogisme negatif adalah silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif. Silogisme ini biasanya pada salah satu premisnya ditandai oleh kata-kata ingkar (bukan/tidak)
Contoh:
PU = semua penderita TBC tidak boleh merokok
PK = Budi penderita TBC
K = Budi tidak boleh merokok

Entimem
Kadang-kadang dalam berbicara, khususnya dalam mengemukakan sesuatu hal seseorang tidak ingin berpanjang lebar. Pada saat tertentu orang ingin mengemukakan secara praktis dan tepat sasaran. Dengan demikian apabila kita berpikir dengan silogisme dirasakan terlalu panjang. Oleh karena itu acapkali pembicara langsung menyatakan kesimpulannya saja dan tidak disertai dengan proposisi-proposisinya. Silogisme yang dipersingkat itulah yang disebut dengan ENTIMEM.

Rumus entimem C = B karena C = A

Contoh:
Dua contoh silogisme di atas dapat dijadikan entimem sebagai berikut
1. Joko pasti memakai helm karena Joko seorang buruh tambang
2. Budi tidak boleh merokok karena Budi penderita TBC

Penalaran Induktif

Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara dan prosedur tertentu.
Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika. Logika dapat didiefinisikan secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif.
Logika induktif berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesmpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat individual atau khusus.
Penalaran Induktif
Induksi merupakan cara berpikir dengan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataaann-pernyataan yang ruang lingkupnya khas dan terbatas dalam menysusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Ada tiga bentuk penalaran induktif. Ketiga bentuk tersebut adalah (1) generalisasi, (2) analogi, dan (3) hubungan kausal

1.  Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum
Contoh generalisasi :
a.       Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
b.      Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

2. Analogi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.


Contoh analogi
a.       Nina adalah lulusan Akademi Kemasyarakatan. Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ali adalah lulusan Akademi Kemasyarakatan. Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
b.      Eka dan Eki adalah saudara kembar. Mereka ska makan makanan yang sama, suka menonton film yang sama, dan suka memakai pakaian yang sama. Sesuatu yang menjadi idolanya juga sama. Pokoknya segala keinginan mereka hampir semuanya sama. Tono dan Tini juga saudara kembar. Bertolak dari perilaku Eka dan Eki, seorang psikolog berkesimpulan bahwa Tono dan Tini tentu mempunyai kesenangan yang tidak jauh berbeda.

3. Hubungan kausal
Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubunga. Gejala-gejala tersebut berhubungan secara sebab-akibat
Macam hubungan kausal :
a.       Sebab- Akibat.
Dalam hubungan ini, pertama-tama dikemukakan peristiwa-peristiwa yang menjadi sebab, baru kemudian disimpulkan dengan akibatnya
Contoh
Budi anak yang malas. Tiap hari kerjanya hanya ramai dan suka mengganggu temannya. Pada saat jam pelajaran sedang berlangsung, ia selalu tidur di kelas. Padahal guru sering menegur. Teguran dan nasihat guru selalu diabaikan. Di rumah, ia juga tidak pernah belajar. Kesenangannya hanya bermain dan bermain. Sehingga saat ujian akhir, Budi harus puas meratapi nasibnya. Dialah satu-satunya siswa yang tidak lulus ujian.
b.      Akibat- Sebab.
Dalam hubungan ini, yang dikemukakan pada bagian awal adalah peristiwa-peristiwa yang merupakan akibat. Selanjutnya barulah dipaparkan akibatnya
Contoh
Banjir bandang melanda daerah-daerah dataran rendah. Banjir itu datang dengan tiba-tiba. Dalam sekejap, daerah itu telah tergenang air. Padahal di daerah itu tidak terjadi hujan. Tidak ada petir atau Guntur yang menggelegar. Setelah beberapa jam kemudian diketahui bahwa banjir itu datang dari daerah hulu sungai. Kabarnya, jauh sebelumnya, daerah hulu sungai hujan deras. Sungai-sungai kecil tidak mampu menampung air hujan yang mengalir. Aliran itu berkumpul menjadi banjir besar yang datang tak terduga di daerah dataran rendah.
c.       Sebab- Akibat 1 – Akibat 2.
Dalam hubungan ini, dikemukakan suatu sebab dapat menimbulkan lebih dari satu akibat. Akibat yang pertama dapat menimbulkan akibat-akibat yang lain.
Contoh:
Setiap menjelang lebaran, arus mudik sangat ramai. Seminggu sebelum lebaran penumpang sudah berjubel. Saat-saat seperti ini sudah barang tentu harus disediakan kendaraan-kendaraan cadangan untuk menampung arus penumpang. Kelebihan armada pengangkutan mau tidak mau mengakibatkan arus lalu lintas menjadi sangat padat. Kesemrawutan arus di jalan tidak jarang menimbulkan kemacetan di mana-mana. Lebih dari itu bahkan tidak jarang terjadi kecelakaan. Kesemrawutan, kemacetan, dan kecelakaan itu pada gilirannya akan menghambat perjalanan mudik itu sendiri.